Rekognisi Axel Honneth: Sound Horeg dan Pengakuan Sosial

Main Article Content

Muhammad Faroh Ilhami

Abstract

Penelitian ini membahas fenomena budaya sound horeg yang saat ini berkembang di masyarakat Indonesia, terutama di Jawa Timur, yang menjadi ekspresi budaya dan sarana hiburan. Sound horeg ditandai dengan adanya pengeras suara yang berkapasitas besar dan menghadirkan suasana musik elektronik dan diskotik yang ditampilkan dalam ruang publik seperti karnaval dan arak-arakan di jalanan. Perkembangan ini menunjukkan pergeseran fungsi pengeras suara yang hanya sebagai pelengkap acara berubah menjadi pusat perhatian. Meskipun diminati banyak kalangan, kemunculan sound hored menjadikan perdebatan karena seringkali dianggap mengganggu kenyamanan dan ketertiban umum. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengumpulkan data melalui literatur, sumber digital, dan dokumentasi. Analisis dilakukan secara deduktif dan induktif untuk memahami makna budaya dan relasi sosial yang terbentuk dalam komunitas penikmat sound horeg. Teori pengakuan sosial Axel Honneth digunakan sebagai alat analisis dari penelitian ini. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa sound horeg tidak semata hanya sebagai sarana hiburan saja, tetapi juga bergeser menjadi alat untuk memperoleh pengakuan sosial di dalam masyarakat. Ada tiga pengakuan dalam pandangan Honneth. Pertama, pengakuan cinta terlihat melalui kedekatan emosional dalam komunitas. Kedua, pengakuan hak melalui upaya mendapat legitimasi dalam berekspresi di ruang publik. Ketiga, pengakuan solidaritas melalui rasa bangga serta identitas kolektif yang dibangun oleh pecinta sound horeg.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

How to Cite
Ilhami, Muhammad Faroh. 2026. “Rekognisi Axel Honneth: Sound Horeg Dan Pengakuan Sosial”. The Sociology of Islam 9 (1):26-42. https://doi.org/10.15642/jsi.2026.9.1.26-42.
Section
Articles

References

Allya Salsa Bilatul Kh, Diajeng Anugrah Cantika Sari, & Fatkurohman Nur Rangga. (2024). Perkembangan Sound System sebagai Budaya dan Kompetisi Sosial di Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar, Banyuwangi. RISOMA : Jurnal Riset Sosial Humaniora Dan Pendidikan, 2(4), 220–233. https://doi.org/10.62383/risoma.v2i4.156

Alvirtyantoro, R. (2024). Mengenal Fenomena Sound Horeg. Medcom.Id. https://www.medcom.id/hiburan/indis/Rb1DoB2N-mengenal-fenomena-sound-horeg-sejarah-dan-artinya#:~:text=Sebenarnya kemunculan Sound Horeg dimulai,) di rumah masing-masing.

Awaluddin. (2023). Dinamika Budaya Dalam Era Globalisasi: Studi Kasus Di Indonesia. Jurnal Socia Logica, 2.

Honneth, A. (1996). The struggle for recognition: The moral grammar of social conflicts. The MIT Press.

Ibrahim, I. A., Kamaruddin, S. A., & Adam, A. (2024). Pengakuan Sosial dan Ketidaksetaraan Kesehatan: Analisis Malnutrisi Melalui Lensa Teori Axel Honneth. Jurnal Kolaboratif Sains, 7(4), 1451–1460.

Kistanto, N. H. (2018). Tentang Konsep Kebudayaan. Undip e Journal, 10.

Marta, R. F. (2018). Perjuangan multikulturalisme perhimpunan Indonesia Tionghoa dalam perspektif rekognisi Axel Honneth. Bricolage: Jurnal Magister Ilmu Komunikasi, 4(01), 23–31.

Nusa, J. (2023). Trend Sound Horeg, Digital Native Sarat Omzet. Jurnal Nusa.

Purbaya, A. A. (2024). Pakar Unnes soal Sound Horeg: Jangan Jadi Tradisi yang Merugikan. Detikjateng.

Runesi, S. T. (2014). Pengakuan sebagai gramatika intersubjektif menurut Axel Honneth. Melintas, 30(3), 323–345.